hampa dan asing…
Merasa tidak berarti tiba tiba di satu detik karena jelas jelas menolak yang ada di depan mata.
Dan memilih menikmati keabstrakan yang ternyata memang semua yang diimpikan ada disana. Cuman satu kurangnya…… Apa…? Apa… apa kurangnya… ?… ternyata tidak menemukannya dengan kata-kata. Karena semuanya ada di hati. Ada dirasa. Ada dijiwa. Lengkap. Tidak ada kurangnya.
Tapi semuanya hampa… seperti di gilas gilas rasa ngilu yang mendalam tapi membahagiakan karena kehampaan itu sendiri… Bukan. bukan hampa. Ada. dia ada disini. Penuh. Hhhhh… enggak berhasil lagi menemukan kata kata…
Tuhan sampai kapan keadaan seperti ini menguasai seluruh hati, jiwa, tubuh, pikiran… ah…semuanya. Is it my destiny? Hmm… Tuhan…?… dimana…? Aku mencari-Mu… ingin meyakini dengan apa?
Aku tidak punya cukup kekuatan Kekuatan itu timbul tenggelam Jelas Itu bukan satu hal yang bisa dijadikan satu pegangan Kalopun aku yang jadi pedoman…
Kalo ternyata aku cuman segini… apa yang bisa diandalkan dari aku? So… apa sudah saatnya aku tidak selalu menolak apa yang ada didepan mata? Jelas namun tak jelas. Ah… sama saja bunuh diri.
Tuhan… Tuhan… Tuhan… Aku merasa asing dengan diriku sendiri
‘AK’ 4.42 pm 17 Mei 2005

Adek Adek …
Aku mungkin membaca dan merasakan keresahanmu. Ah, jatuh cinta memang indah, namun juga pelik.
Kadang dunia ini menjadi sahabat, namun sering juga menjadi - rasa-rasanya - pengkhianat.
Maka:
Subuh hari itu, biarkan berlalu …
Pada suatu subuh di suatu harimu
begitu dingin, senyap dan hampa.
Begitukah?
Tuhan tahu engkau mencitai dia.
Engkau tak perlu berteriak, tak perlu juga menangis.
Yang Tuhan perlukan hanyalah
keteguhan hatimu untuk mencintai dia.
Bukan hanya saat subuh ia menderamu,
karena dia begitu menetap di hatimu,
merambah diam ke setiap relung hatimu,
membuat hatimu berdegup, riuh
bagai tetabuhan bedug subuh.
Begitulah cinta …
karena mencintai adalah mengagumi dengan hati.
Dia pasti begitu indah …
Karena telah menggugah nuranimu
Bagai wewangian bunga di taman
yang tanpa restumu harus dihirup, lalu
kau pun harus menghirupnya,
Kemudian menusuk, dan menghujam di kedalaman bathinmu.
Manis… namun kadang-kadang begitu getir,
seperti dingin dan sepinya subuh
Dia akan menjadi lebih indah
Karena telah menyita segenap sukacitamu, jiwa dan ragamu
Bagai suara burung di belantara
Yang bersiul bebas, tanpa harus diminta untuk bersenandung.
Menakjubkan … namu kadang-kadang memilukan
Ah … begitu sepinyakah Dikau, Dik?
Hingga matamu tak mampu terpejam
Hingga nafasmu terus bergetar
Hingga waktumu dibiarkan berlalu begitu saja
Hingga semua orang bagai iblis dan malaikat
yang tidak kau undang?
Jangan biarkan hatimu lara
Bunga harus mekar untuk keindahan alam
Itulah dirimu, kaulah bunga itu
banyak yang menanti mekarnya cintamu.
Jangan abaikan mereka.
Salam manis untukmu!
Tidurlah sayang, pejamkan matamu untukku.
Subuh hari itu, biarkan berlalu
Karena besok subuh pasti akan menantimu kembali.
Ng-Gelik
Nggelik said this on June 16, 2005 at 11:06 pm