header image
 

JI_ EI_ PHI

180605.12.12

Tidak ada yang bisa jelas dilihat dari satu sudut pandang

Tidak mungkin!

Tidak ada keadilan jika dilihat dari satu visi.

Maka…

Pengadilan akan bangkrut!

Jaksa, pembela, tidak punya lawan

Hakim Cuma jadi ‘sebuah’ corong dengan suara memantul mantul

Merajam harga diri

Menguliti ari

Memompa semburan darah ke otak

Skenario

Skenario lawakan

Aktor aktor yang menganggap otak mereka terbuat dari emas beranak

Menggerakkan mesin mesin, membakar sesuatu yang mengering siap terbakar

Lucu. Panas. Tertawa mereka seperti api. Naga.

Ini adalah simbol

Kalau benar benar ingin memperbaiki keadaan bukan dengan ini

Ini adalah membentuk simbol agar terlihat lebih nyata

Simbol. Untuk dijadikan Pegangan. Kebanggan. Identitas. Dipuja puja.

Ooo… ic…ic… jadi ini mau-nya. Okey..

Judul scenario ini… SIMBOL.

Aktor aktor yang memaksakan diri menghayati dialog

tanpa melihat kualitas sendiri

lucu jadinya

Aktor Watak. Action. Slapstick. Komedi..hm..tidak satupun dari mereka termasuk

Protagonist, antagonist…mmm… bukan juga…

Tidak ada yang bisa dihakimi dengan kebiasaan hanya mendengar dan melihat dari sebelah sisi

Tidak ada yang bisa ditindak tegas tanpa punya pedoman, peraturan dan tujuan yang jelas

Tidak ada yang bisa dianalisa kalau data cuma diambil sebagian

Tidak ada kesimpulan kalau data pun tidak jelas

Kumpulkan dulu data diri sendiri. Analisa dulu cara yang sudah, sedang dan akan.

Bingung? Kehilangan cara? tidak fokus?

Maka ini sebabnya.

diputuskan.

untuk mebuat skenario bertema ‘mempertebal simbol’.

Geli menonton skenario ini…

Sibuk menyalahkan hujan yang memang harus turun membasahi.

Padahal yang melekat dibadanpun memang sudah basah dari mula.

So, kenapa masih memarahi matahari waktu dia coba bantu?

Takut panasnya? mmm … bukan…? jadi apa? Kesian deh lo!

Silahkan sembunyi cari aman kalau anda merasa takut.

Silahkan pakai topeng terbaik anda yang lain…

kalau anda merasa topeng yang sekarang tidak memuaskan.

Mungkin itu adalah ’solusi’ yang bisa disebut sebuah solusi bagi anda.

12.54 ‘AK’

~ by adekkeliat on June 17, 2005.

One Response to “JI_ EI_ PHI”

  1. Dik … di dunia ini …
    Keadilan bagaikan lari menjauhi kita,
    semakin tak terkejarkan ketika keadilan itu hanya dilihat dari satu sisi, dan celakanya satu sisi itu adalah untuk kepentingan diri sendiri.

    Menggelikan karena itu hanya sandiwara, kepura-puraan dan dusta. Komersil? Tentu, Dik!
    Akhirnya pengadilan itu hanyalah sebuah simbol
    Ada kebohongan menjadi tahta di sana
    Bagi yang tahu jadi tidak mau tahu
    Bagi yang paham bibir mencibir
    Bagi yang mengerti jadi komedi
    Bagi yang peduli mereka terus berteriak, namun kelelahan
    sendiri.

    Kita … sudahlah … (biarkan mereka?)
    Sebab, alam akan mengadili mereka dengan caranya sendiri
    Nurani menghakimi mereka dengan kegetirannya
    Nasib mendera mereka dengan bara ketakutan dan api yang menyala-nyala sehingga hidup mereka sepi dan merana di tengah keramaian.
    Dan, di penghabisan waktu, pengadilan terakhir akan memutuskan tempat yang layak bagi mereka.

    Kita … biarlah …
    Tahukah kau, Dik?
    Hakim tertinggi adalah nurani kita sendiri!

    Tahukah kau, Dik?
    Alam ini menghakimi kita dengan hukumnya:
    Siapa menabur, dia akan menuai
    Seperti petani, jika ia menabur benih yang baik, tuaian panennya akan banyak, baik dan menghidupkan banyak orang.

    Dik …
    Kalau hidupmu mau bahagia, bahagiakan orang lain
    Jadilah seorang hakim yang adil dan bijaksana
    Pertimbangkan keputusanmu dari banyak sudut pandang karena akan sekaya itu pula kebajikanmu, dan seindah itu pula hatimu.

    Salam untumu!
    (Andaikan kamu menjadi seorang hakim, Dik?)

Leave a Reply