sulung adopsi
Nama belakangku raini. atau reini. sering salah ketik. di ijasah ijasah sekolahku pun beda beda. biar saja. aku suka. raini dibaca reini artinya ujan. ujan yang kalo dibayangkan kecil kecil tapi terus menerus. mungkin seperti itu hidupku. seperti orang yang menangis terus tapi tidak terasa lagi. karena sudah jadi kebiasaan. trademarknya aja reini. raini. ohya…aini. atau eini mungkin lebih baik untuk sugesti diri sendiri. jangan hujan..jangan menangis. tersenyum aja.
aku bahagia. aku punya ayah dan ibu yang sangat memperhatikan dan mencintai aku. maklum… mereka sudah lama hampa. sepi. tidak punya anak. aku diambil dari panti asuhan yang mereka dapat referensinya dari internet. jadilah aku anak mereka. anak kesayangan. betapa girangnya hatiku. punya keluarga yang tulus mencintai aku. rumah yang nyaman. sekolah yang menyenangkan.
berbondong bondong "saudara saudara" ku belakangan ini sering memenuhi rumah. kamar kecilku yang istimewa pun tidak lagi istimewa. banyak yang ikut ikutan meniduri. merubah letak benda benda kesayanganku kadang aku tidak tau dimana bisa menemukannya lagi. ayah ibu sekarang seperti cuma mengingatkan aku makan 3x sehari. sekolah. kadang pr pun tidak lagi ditanya. hm… ada apa ini… aku tau. ada adik bayi. "adikku" yang lahir benar benar dari perut ibu. lucu sekali bayi itu. aku juga menyayangi dia. tapi tiap aku ingin dekat dengan mereka. "keluargaku" ibu ayah dan adik bayi.. aku seperti asing… ibu bicara tidak lagi dengan membelai. ayah berkata kata tidak lagi dengan menatap dengan sayang. mata dan tangan mereka tidak pernah lepas dari adik bayiku. tapi aku masih merasakan kasih sayang di alunan suara mereka. aku coba meriangkan hatiku.. "ah adik bayi "ku" ini memang lebih membutuhkan perhatian. aku kan sudah besar. tidak perlu lagi terlalu dimanjakan.
waktu "saudara saudara" ayah dan ibu datang.. aku keluar dari kamar kecilku –belajar. setidaknya ayah dan ibu ingat aku anak rajin dan pintar disekolah. setidaknya mereka memberi aku kecupan hangat lagi, setidaknya setiap aku pulang dan pergi sekolah saja.– mencoba ikut dalam kebahagiaan ayah ibu adik kecil dan saudara saudara"ku". tapi yang aku lihat senyuman senyuman dibuat buat dari mereka. sedikit ada tatapan iba. dari ayah kemudian memelukku sebentar tapi kemudian lupa dengan keberadaanku. aku pun beringsut pergi. tidak ada yang menyadari.
duduk di pagar tinggi samping rumah. melihat ke tanah lapang. anak anak sebayaku bermain disana. teringat teman teman panti ku dulu. kemana mereka? masih disana? atau sudah mendapatkan rumah dan orang tua baru mereka masing masing?
lamat lamat aku dengar pembicaraan dari kamar mandi dekat pagar yang aku duduki.
"nah!itukan memang biasanyanya begitu.. kalo susah punya anak.. harus adopsi dulu,’sulung adopsi’ gituloh, buat mancing gitu.. apalagi kan mereka emang sudah lama sepi gak punya anak"
aku termenung.. ayah, ibu.. aku tau kalian mencintai aku. aku bukan diambil karena sepi kalian apalagi untuk pancingan… aku mencintai kalian. aku merindukan kalian. aku sayang sama adik bayi baru ‘ku’ itu…kalian pasti tau itu. dan aku sekarang merindukan teman teman pantiku. walaupun disana aku tidak punya kalian… setidaknya aku punya teman teman senasib yang mendambakan orang orang seperti kalian. ada harapan dan kekuatan. tapi… apakah teman temanku itu masih disana…? semoga saja mereka mendapatkan rumah indah sepertiku ini juga.
ayah.. ibu… biarkan aku menjadi ’sulung’ kalian
jangan jadikan aku ’sulung adopsi’. aku cukup tau. tidak perlu diberitau lagi dan lagi.
‘AK’
15.08- 18.30

Leave a Reply