Pada ‘kerinduan

sebentar tadi sekejut,
Kikir baja menderesau
Tepat di tengah
Titik kelenjar
memperkosa
Diafragma
menggelinjang
Paru paru mengeras
Darah seperti anak panah
Lalu patah di geretakan geraham
Mengembangkan titik pori
Bebulu halus membatu
Gelombang rambut mengacung acung
Tergulung urat dan otot
Aku teringat pada kerinduan
Yang biasa dulu…
Masih bernama kerinduankah sekarang…?
Memburaikan definisinya
Aku teringat akan kerinduan…
Ingin menjenguknya
Tidak usah menyentuh
Sampai terlemas tak terupaya
Sampai pergi tanpa suara
Sampai menguap tanpa warna
Aku ingin mati rasa saja
Timbang mengakui sia sia
Tidak mengakui seperti benar ada
Khusyuk menghitung warna tenunan benang di kerah kumal
Satu warna.
Kerinduan.
Lalu terjerungup di lembab sofa
Memunguti remah dan debu disitu…
Berdzikir pada kerinduan.
************************************ADEK************

jeram hati kerasnya mengukir risau
dalam kerinduan fana menusuk setajam pisau
menjadi stagnant kah dirundung galau?
atau awal melupakan sang lampau?
–arief schummy—hanya ingin urun rembug.
^_^
schummy said this on March 22, 2006 at 5:09 am