Di Kotak Putih Lembab Itu Tadi……
18 April 2006 18:40
Aku melihat wajahmu dengan jelas di putih kotak lembab itu tadi. Di bawah gerimis air dari bulatan silver yang menyemburkannya membasahi rambut kepalaku. Aku menengadah lalu menghitung lubang besar dan kecil tempat para air –RDN- itu bermuncratan keluar. Sampai pedih mataku, tapi aku tetap melihat kamu disitu. Cara kamu menggerakkan dagumu dan berbicara lewat mata tipismu yang hitam.. sampai aku tidak bisa membedakan mana hitam bola matamu, mana hitam garis kelopakmu… yang melipit di atasnya, tepat di tengah. Lipitannya tidak sama. Yang kanan lebih runcing. Sudahkah aku katakan itu padamu…?
Aku mungkin rindu… yang jelas aku kangen. Akhh!! Apa bedanya rindu dan kangen? Antara kangen atau rindu? Whatever… yang aku tau…. Kepalaku basah, kulitnya dingin, merembes sampai ke akar rambutku…. Diantara geritikan air yang jatuh menyentuh lantai pink, kenapa yang aku dengar dengan jelas adalah nada wajib stasiun seluruh Indonesia yah…? –jadi pingin bingung- atau karena ada rasa bersalah di bawah sadarku karena aku… yang pergi. Di stasiun itu… aku mencari kamu. Yang mungkin masih menelentang dengan menekuk siku kanan menindih mata tipis itu hingga keningmu memerah -seperti biasanya- waktu kamu terbangun setiap mencium derap langkahku.
Di stasiun itu… tadi pagi. Seperti baru saja. aku seperti ingin melihat kamu tiba tiba muncul dari undak-undak itu. Lalu aku bisa menatap lagi ke matamu, tarikan tulang pipimu, dan dagumu yang naik, mereka sedang membahasakan sesuatu. ‘Kembar siam nih..’ kataku sambil menaikkan dan merapatkan daguku ke bahumu. Cuma segitu panjang badanku dibanding kamu. dasar pendek kata ku dalam hati. Kurus. Katamu. Bukan.. kamu tidak pernah bilang aku pendek. ‘hah? Kembar siam? Oh..?! adik-kakak ya..? mirip..!!!’ weks!! Aku terpental terhuyung-huyung sakit perut. -siam pisah tanpa operasi- Ibu ibu itu sotoy amat…?!? Hikikikik! Mana ada begini adik-kakak? Hah? Masa sih? Mirip? Ah sebodo teing lah… matamu ke mataku. Mataku ke matamu. kamu berlalu aku berlalu. Mata satu arah langkah lain arah. Ibu ibu sotoy itu menggelindingkan bola matanya ke beberapa arah tapi tubuhnya mematung siap grak lencang kiri saja disitu. Huahakhakhakhakhakhak!!!
Belum 10 menit. Masuklah aku kekotak pengap abu-abu mengkilap alat bawa mayat itu. Menggelayuti babe tercinta yang manjanya ampun-ampun saingan sama aku. E’ehh… kok ya ibu ibu sotoy itu ikut-ikutan berlari mengejar kotak angkut pengap itu…? Weks..weks.. abrakadabra…! ‘oh… ini bapaknya, mbak?’ katanya manggut-manggut maka aku ikut manggut saja. ‘pak..? ini anak nomor dua ya pak?’ ‘iya, ini bu..heheeemm…’ babeku culun baget gile… aku juga sok imut bener senyum senyum kayak monyet virgin dikasi pisang emas.uh..uh..! nah.. nah.. aku liat lagi ibu ibu sotoy itu tarik napas gerakin bibir. Mau ngomong lagi dah tuh…? ‘ooo… ini adiknyaa, yang cowok tadi abangnya, anak pertama ya…? Mirip juga sama bapak!’ gedubrak!!! Mo ancur, ancur dah nih sendal hibahan bibi’ uda aku penyetin… ‘heh..? yang mana…?’ waduw… babe mengamati aku dengan mata serius tapi wajah nya tetap tersenyum-senyum dengan ramah –biasa, sama orang baru yang sok kenal gitu deh!- weks.. such any adults did, lah! ‘oowh.. bukaann..bukaann…’ weleh.. ikut keluar suara juga akhirnya aku. Tingtung!! Sukuuurrr..sukur..dah buka tu kotak angkut angkutnya. Bubbye buk sotooyyy… hehehehehe… ngotot aje lu…?! Saved by the tingtung deh! Adik… abang…
Hhhmmhh….. ternyata aku masih memandangi undak itu. Dan keretaku sudah berisik minta di naiki. Kamu tidak akan ada disitu. Kamu curang! Bisa melihat gerak punggungku meninggalkan kamu tadi malam. Oh! Bukaaan… bukaan… setelah kita berkomidi putar, terahir kali, kamu, berdiri di pintumu, dan aku, di pintu tetangga. Lalu ada keletuk-keletuk sol sepatu yang mengharuskan aku mundur duluan. Melihat hanya separuh tubuhmu karena termakan tembok pintumu, satu 2/3 matamu yang berkata-kata, dan bibir kamu -yang kadang aku bingung mendefinisikan bentuk tarikannya. Garis senyum atau merengut, yang jelas garis premannya nampak pasti- menghilang dalam satu detik waktu aku menarik tungkaiku kebelakang. Selamat malam tidak lagi. ‘bikin kepalaku tambah pening’ katamu. Selamat pagi pun tidak. Sampai aku tak sadar menunggumu di undak undak. Sampai aku harus sibuk dengan hp curhat mantan calon kakak ipar. Sampai sesawahan setengah kering yang baru di cangkuli kulihat berubah menjadi batik lurik coklat muda coklat tua dengan prada motif -pohon- hijau di kelilingnya lalu di taburi manik- manik warna warni -baju-baju petani-. Sampai aku pura-pura sibuk karena kesal atas telpon si mellow dan si murtad. Uh.. padahal sih enggak ngefek sama sekali… kurang kerjaan aja. Daripada aku harus setiap detik mengucapkan kalimat yang sama. ‘aku kangen kale ini, tauuk..?!’ kan nggak lama juga nggak bosannya –RDN- denger gituan. ya sama aja! bosan juga itu sih… bikin malas aja. Kata babe… enggak ada orang malas jadi kaya apalagi jadi pinter…? weks!
Nah? Ini? Kenapa disitu kemaren semua manusia jadi tergambar seperti orang malas? Hmm? Dan aku? Kerjaku mengunjungi pintu demi pintu… tante…? Tante Gorontalo yang baik… keadaannya bikin aku nelangsa. Dengan tengtop hitam dan celana tidur motif kegombrongan. Ikat rambut hitam membedirikan rambutku seperti ekor kuda balap. Urusan pagi selesai.. mana dia? Enggak nungul di pintu belakangnya…? Hhh.. biasanya sejajar jarum jam 3 dan 9. matanya yang tipis tidak pernah lepas dari ekor mataku. Melakukan gerakan yang sama di ujung sana..fiuhh.. kangen… aku ingin ke ujung sana… ‘sini, masuk, tante pingin bicara… kaget, heran..ada apa… bukannya baru sekali aku ketemu tante baik itu…? ‘ya..tante…?’ aku meraih tangannya menggapai lemah… ya Tuhan… tangan itu… tolong dia Tuhan… aku bergetar sampai ke ujung pergelangan kaki. ‘sini duduk sini..kemana aja..? enggak kelihatan dari kemaren..?’ Tuhannn… kurangilah rasa sakitnya… aku tangkupkan dua telapakku pada telapak kanannya. Sedikit aku pulaskan ibu jari kananku lalu kuusap dengan lima jari kiriku. ‘sibuk sama mama ya…?’ ‘enggak juga tante…’ ya makanya.. duduk sini, cerita sama tante.. ini, ada yang mau tante bicarakan..serius. udah punya temen belum?’ hegs! Kaget.. temen. Kata tante Gorontalo itu. Biasa aja. Temen. Tapi aku merasakan tanda aphostrophy pada kata temen itu. Ditambah dengan hawa yang aku rasakan menyalur dari kulit tangannya…yang… akh… tante… semoga tante tidak merasakan sakit seperti yang aku bayangkan dengan melihat keadaanmu yang sedemikian… ‘tante ada ponakan… kalo belum ada temen.. mau tante kenalkan, gitu.. cocok deh kayaknya… dah ada belomm?’ matanya menggoda. ‘hehehe..tante bisa aja..banyak tante…’ ‘waa..kalo banyak..ya tante gak berani tuuh..’ ‘kan temen banyak gak apa apa kan tante..?’ ‘yaa..maksud tante..temen, yang bisa diajak semuanya. Bicara. Tentang laut, gunung, bukit, jurang, gimana cara supaya bisa nyeberangi…sama sama,gitu…sayang…’ o my Godness… I know what you mean tante.. I know… I know… ‘hehehe.. oh..kalo itu masih susah Tante.. belom ada…’ nah itu, ponakan tante.. katanya mau tuh..’ astaga… terlompat buku buku jariku… tante itu menunjuk si mata tipis dengan bola matanya. Ya Tuhan.. aku ingin memeluknya… ingin memeluk si mata tipis… ingin bilang.. seandainya.. seandainya.. seandainya.. ya… ya.. aku bersedia… apapun itu. Sekonyol apapun jenis kemarahanku.. sampai saat ini.. dia mapu membukakan satu sisi jalan otakku untuk menerima dengan indah. Bukan dengan pemberontakan dan pembuktian –kalau itu maumu? Kalau itu tuduhanmu? Okey.. sia-sia sudah aku membuktikan..lebih baik aku lakukan saja seperti itu-. Tuhan… maafkan Tante ini… beri dia keikhlasan menerima keadaan ini… Tuhan.. jika saja… aku boleh… aku akan. Lalu aku melihat bayangan pergi si mata tipis dengan lipit aneh itu… membiarkan kami berbicara sambil terus saling menggenggam… aku baui kibasan rambutnya… aku ingin memeluknya. Di undak undak itu… tidak ada dia… sampai aku tidak tau..undak undak itu sudah menjauh…
Tersiksa juga menghabiskan umur dengan duduk diam dan berpikir yang aneh aneh. Dinginnya dari lubang-lubang itu bikin penuh rongga hidung dan tenggorokan saja. produksinya meningkat tajam nih… biar anget mo minum kopi aja srapat sruput megangin dagu sendiri. Heghh.. kopi..? Dee mana…? Nah! Itu tadi? mau pipis aja goyang goyang dulu. Lenggok kekanan panting kekiri. –hobi kok kamar mandi? –RDN- be’ol mulu yak?!- Belum lagi teraniayakan dengan pantat kebas, gendang telinga kemana-mana ikut menderu bersamaan dengan gerudukan besi dengan besi. Kartun nun jauh di depan pun Cuma kudengar lengking tertawanya si Woody woodpecker itu. Sudahlah. Cukup. Besok lagi kereta mabur saja, kata sms mantan calon kakak iparku yang tadi matanya kulihat basah di stasiun itu. (mungkin dia dengar aku menamainya dengan tambahan ‘mantan’. hehehe… ) Oke dehh, Flyyy… Fly saja, fly… hehe. Hus. Narkobs ya??!! wiii… babe bangets…
babeee… babe.
Seandainya seluruh umat manusia ini seperti anak-anakmu… tapi kan sayangnya tidak begituuuh!?! Dan keajaiban terjadi. Sekali seumur hidup. Untuk dua hal berbeda yang aku dapat. Darimana aturan itu muncul? Kapan? Sejarah mencatat. Itu kan bukan anak bikinan anda, babee… kenapa dibikin seperti itu…? Adooowhhh…… hh!!! eghhhh… apa kata dunia persilatan nanti –Ichi- tidak semua orang bisa mengerti setulus si ikhlas dan seikhlas si tulus atas apa yang babe katakan dan lakukan, kan…? Hati orang seluas apa, sedalam apa, mana kita tahu… weks.. tapi yang sudah ya sudahlah. I believe in him. Gak tau kenapa. Yakin aja sama dia. Dia mengerti. My heart says that.
yang ke dua, saat itu, 27 tahun aku sudah melakukan berjuta-juta, berton-ton, kesalahan besar, kenapa baru di gampar pada saat yang tidak monumental sama sekali…?, dan di depan manusia yang yang tidak berkompeten di bidangnya sama sekali… kenapa…? Virus penjahat? Aku kan sudah imunisasi..? rayuan Narkoba? Weks! Gila aja apa? Sebelum aku di rasuki kuntil, mending aku bacok duluan tu si pembawa kuntil! Hwah!! Whatever lah! Please babe… Don’t judge a book from its cover please… ‘apa tuh?’ Wah.. jadi panjang juga nanti mentranslatenya. Sibuk! Gak ada waktu! –RDN- Ya udah deh.. mending aku diam saja. terkesima dengan gerak putar cepat tengkorak kepalaku malam itu. Freezin. Pengalaman pertama memang mempesonakan. Speechless. Lalu bisa-bisaan aku malam itu tidur dengan ringan seperti fly, tengkurap di kapuk awan-awan. Lega dan lepas. So…? Siapa butuh drugs kalo cukup dengan gamparan saja bisa fly…?! cuih…! Itu bisa gretong pulak!? Ya toh?! The short one is, that’s not my type at all!
Okey… paginya Tuhan baru beri tahu aku, bahwa tidak ada sakitnya juga jadi sansak. Apalagi yang multi fungsi. Urusan silsilah, tampuk, gono gini, upeti, generasi penerus, dan segala tentang kerajaan antah-berantah -yang mengalir memenuhi nadiku namun tidak pernah jadi kibaran benderaku- itulah yang lancang memekakkan jantung babe 2 minggu belakang ini. Obatnya ternyata adalah; sansak 1000mg, tidak sesuai resep dokter tidak masalah. Aturan pakai 27 tahun sekali tidak masalah. Dengan merk ‘aku’ pun tidak masalah. Karena kebetulan cuma aku yang ada disitu. Sadar sesadar-sadarnya, ngaku sengaku-ngakunya, honestly… aku juga selalu bikin masalah karena sok memamerkan keahlianku sebagai sansak. Sok badung dan nantangin. Lebaraaann… lebaran Be… hehe… maap… yang ku tahu hanya mencintaimu. Caranya..? ya terserah gw atuh! Ah! ;p
Kemudian… ‘CLING! !!’ kemana semua urusan kocar-kacir yang maha penting tentang Kerajaan yang Babe risaukan teramat sangat dalem kelipet lipet sampai mbrundets sebelum itu? Hilang lenyap. Alhamdulillah… dunia terang benderang sudah… -12 juta keep saved for oprasi katarak- fiuhhh… memang harus ada satu titik puncak untuk membuat satu manuver berbalik arah. Apa kalimat-kalimatku atas urusan Kerajaan itu harus di puncaki dengan cara seperti itu baru bisa meresap ke kepala dan dadanya…? Hingga dia sebenarnya tidak perlu rontgen basah, hemoglobin, PST, USG, EKG, DSA, blablabla, cangcingcung, wasweswos… arigato sinaga silalahi sikumbang alaydrus alhabsy koto zega chaniago paklay capjay jaynal jaylani jaylangkung…
Hhh…! Ughh… ringan sekarang… aku bisa tidurkan mata di…… hhh…?? di… mana…? Weks.. ya sudah disini saja. bersama Nayla, Maxsal, dan righthand… As usual. Sybil & Gifari sudah pindah rumah… pada kamu yang di undak undak itu… yang di nyonya meneer air mancur dalam putih kotak lembab itu tadi… mata tipis lipit wiru… kening merah bando rayben… ^nsgila. G’ Nite anyway…
*****************************************Adek -19 April 06- 00:32 ************************************

Leave a Reply