AKAN DISANA
Menahan celekit celekit disisi kemih
Dia masih menghisap ujung putih itu
Hatinya cedal-cedal sekarat merayap
Mengawasi lambaian jubah yang akan menyentuh tombol kematian
Dengan satu usap angin dari ujung telunjuk dalam jubah…
Dia akan menangis dan mati.
Atau menyemburkan gas…
Mengelabui arah ke ruang penuh tombol senyum
Apinya bernanah seperti kabar yang diam seribu bahasa dari timur sana
Dia ingin lari saja
Tapi mata kakinya terjeruji disana
Sepuluh jarinya menggerais angin ingin ikut ke barat sini saja
Lalu punggung dan lehernya terbeliung ke segala arah mata angin
Bulu matanya terentang erat mengejang
Memutari bola mata yang pikuk menyisik antara debu dan tujuan
Pedih dan menjadi imun
“Aku akan disana…
Aku akan disana…!
Pasti”.
(Was)Kemanggisan-01:29-070506

Leave a Reply