BINUS Kemanggisan
MAAP…Schummm..mini…
ke’plagitan’an telah terlaksana… gw ngefans banget ma tulisan tulisan ini…
Jodoh..ah lagi2 jodoh….
Mungkin hikmah dari Tuhan yang tersirat dari telat jodoh, telat nikah, telat rumah tangga, apalah (asal jangan telat datang bulan..weks..) adalah menumbuhkan kedewasaan kita.
Saat jiwa kita berpikir dewasa dan terstruktur, berkata bijak dalam komitmen yang bertanggung jawab, Bertindak cermat dan berfokus pada masa depan…saat itulah jodoh siap kita jemput dan Tuhan tidak akan segan2 mengungkap rahasianya. sebelum itu bisa kita raih…bersabarlah…
Ingat…bertambah usia adalah pasti…bertambah dewasa adalah pilihan… Saya pun yakin belum cukup dewasa…
Manusia punya kelebihan dan kekurangan, gak fair bila kita mengaharapkan kesempurnaan saja dari pasangan, sedang kita gak pernah bercermin bahwa diri kita adalah juga "gudang" kekurangan dan kesalahan. Saling melengkapi pasangan kita, jauh lebih baik ketimbang berharap muluk memperoleh "yang udah jadi".
jadi pernyataan penutup, jangan tanyakan "Siapakah jodohku?"
Tapi tanyakan "Sudah cukupkah usahaku untuk menggapai jodohku?"
Wallahu alam bish shawab…
Jadi merupakan sebuah lembaga suci yang menampik
kehidupan membujang di satu sisi, namun juga
menampik kebebasan interaksi laki-laki dan
perempuan di sisi yang lain.
Pernikahan adalah jalan tengah yang membentang
antara dua ekstrem. Jadi Pernikahan kurang lebih
merupakan sebuah pilihan cerdas, dimana juga kita
harus cerdas memilih siapa pasangan kita.
Karena bwt gw sendiri pernikahan dalam kondisi
ceteris paribus, adalah a single moment in your
whole life atau singkatnya "once in a life time".
Dan secerdas-cerdasnya sebuah pilihan, adalah :
Cerdas dengan Hati.
"When heart begins to think…"
Hampir setiap orang mempunyai harapan yang sama
tentang keluarganya, yaitu ingin bahagia; sakinah
mawaddah warahmah. Namun, sebagian orang
menganggap bahwa menciptakan keluarga yang sakinah
mawaddah warahmah serta langgeng adalah hal yang
tidak gampang. Fakta-fakta buruk kehidupan
rumahtangga yang terjadi di masyarakat seolah
makin mengokohkan asumsi sulitnya menjalani
kehidupan rumahtangga. Bahkan, tidak jarang,
sebagian orang menjadi enggan menikah atau
menunda-nunda pernikahannya.
Sebuah pernyataan dari seorang bijak mengungkapkan
:Cinta itu buta, tapi pernikahan adalah alat
pembuka mata anda. <<Love is blind, but marriage
is an eye-opener.>>
dan pernyataan ini diperkuat komentar ortu gw yang
bilang "Cinta sejati adalah Pernikahan itu sendiri"..
Loh kok? bukan cinta pertama Enyak? Bukan cinta
SMA babeh? Bukan Cinta pandangan pertama?
Nyokap bilang bukan!
Kenapa?
"Karena pernikahan bila dilaksanakan dengan benar,
adalah komitmen atas pemeliharaan kesetiaan cinta
kita pada pasangan, kesetiaan cinta kita pada
pencipta (ingat nikah itu ibadah), kesetiaan kita
memberikan yang terbaik pada anak dan keturunan
kita, dan kesetiaan membina silaturahmi antara dua
keluarga besar yg terbentuk (keluarga besar
sendiri dan keluarga besar pasangan kita)"
i Point’ Binus-Kemanggisan
21:46 May 11 06

suatu kebohongan besar, bila orang mengaku bijak tapi tak pakai hati…
justeru bijak tumbuh merekah setelah bertanya pada nurani…
apakah egoku menyakiti orang lain…
apakah emosiku melukai pihak lain..?
Berpikir logis dehngan hati…
itulah makna bijak sejati…
(ingat …orang bijak …taat pajak! loh..ra nyambung…)
schummy said this on May 12, 2006 at 10:22 pm
hmm…. u rite…. specially bo’ bijak pajak…. :p
hm… bijak logis dengan hati… need a special treatment and training complete with their adventurous ‘things’
tidak akan menyakiti untuk hal yang tidak berguna kalo itu bijak logis dengan hati. hare gini? emang ada yang sempet begitu? unbelieveble.
adek adek said this on May 22, 2006 at 5:09 am