‘Biar Saja’
Tersadar kau berpanggung di mimpi embunku semalam
Teringat kau menemaniku di petang gerimis tadi
Saat bertukarnya cahaya dan kegelapan…..
Kau selalu.
Dan mereka datang
membawakan senyuman untuk kukenakan
di awan mendung selamat pagi… dari rute-rute akrab kelas sebelah
di matahari kehujanan…. dari media merdeka terputus berhari-hari
di dua donat sampai segelap ini… dari ruang petinggi yang memiriskan maksud
di antara waktu sepinya dalam kelengkapan
di keabstainannya atas ketidaktahuan
di kesendiriannya yang kedua
kemudian kau datang lagi seperti pagi tadi
pertemuan di musim yang sama
tumbuh subur semua kenangan di awan hitam seperti ini
ditanam oleh hati yang mungkin masih sama namun diabai
dibiarkan menepi namun tidak mati
ini bahkan bukan rindu pula
waktu pun tak mampu menamainya apa
walaupun ia memberi sempat untuk membuat kau mati
ataupun ia mempertemukan dengan para pembuat senyum
ia pun hanya sedikit menjawab untuk apa senyuman senyuman itu
dan…
untuk apa kau tidak mati
biar saja………….
9:27pm 131206*****************************************

untuk orang yang selalu berpikiran tanda - (dibaca …)
maaf mengganggu atas kecerobohan saya. 14 nov 07 8:22pm
adek adek said this on November 14, 2007 at 5:22 am