Sepi dalam Abad

Aku diam disini… di bawah awan awan mengelabu…
Berbincang dengan belahan jiwaku… yang menyerpih…
meluruh dalam angin angin malam…
meresap dalam genggaman tanganku….
Pun dia menghapuskan bayangannya
Hilang… tidak ada… semua tersapu debu harum yang tak kuasa lagi kupeluk dalam benakku
Dan aku masih berbincang pada belahan jiwaku… yang mendengarku di suatu tempat… disana
Lalu aku menjerit pada sepi sepi dalam hitungan abad
Menghitam menyunyi dalam deritan suara malam sahut menyahut
Ngilu di lengan ini kusandarkan padanya
Tersambut piano piano yang bukan bernyanyi untuk pertemuan itu
Pada perjalanan yang terlelah
Pada perenungan yang termarut
Aku diam untuk menekukkan lutut bersujud demi sesuatu yang menguap tanpa warna dan bebauan…
Anginkah yang akan membawaku…?
Sayap mana lagi yang menerbangkanku…?
Yang ini perlu istirahat… sebentar mungkin
Atau yang satu ini… menyayu layu dalam kepak
Kepada mana…?
Akupun menggerinyit dalam ruang pelipur sedingin air mata malam
yang sudah beku mengerak…
lalu patah tertiup gema suara binatang pecinta kegelapan
22:29pm
11 Des 06 –Jokja—————————————————-

betapa bodohnya mengingat saat saat dimana airmata tidak ada lagi untuk menangisi orang yg benar benar mengerti namun berusaha paling dari kesungguhan saya.
adek adek said this on November 14, 2007 at 5:27 am