Yang Bisa
Pagi tadi.. dia pamit lagi. Sepuluh hari duluan juga. Pagi tadi aku buat penutup dengan marah pada entah. Sepuluh hari duluan frekwensi bicaraku jadi wise..mendatar.. lalu melemah ..diam…
Sekarang aku mengingat dengan nyeri di satu titik sebelah kiri menyesap getarnya sampai tulang belikat. Dinding panas yang terjemur seharian ini pasti bisa tau ada nyeri disitu..lalu menembus kebaliknya dan terbang bersama udara malam.
Mataku pedih dengan kulit lengket. Gerah!. Dan diantara tulang dadaku masih celekit celekit. Sungguh aku takut sendirian.
Siapa lagi yang menghinaku waktu aku melakukan kebodohan……
Siapa lagi yang mengomeliku waktu aku merasa sangat kuat
Siapa lagi yang memasamkan mukanya waktu aku butuh bantuan
Siapa lagi yang mencercaku waktu aku asik dengan dunia mimpi
Siapa lagi yang bisa aku caci sepuasku waktu dia jadi stupit
Siapa lagi yang bisa aku marah marahi sesukaku kapan saja dimana saja
Siapa lagi yang bisa aku tertawai waktu dia jadi dungu
Siapa lagi yang mau memunggungiku waktu aku menangis di pojok dinding…
Siapa lagi yang bisa menjadikan dan dijadikan badut lalu memenangkan lomba ketawa……?
Hadiah terbaik yang pernah kudapat…
Sahabat dari langit…. Kemarin kemarin dia disini………
Terentang sudah.
Masih… masih ada ‘disini’,
Dan akan lain
Mengetahui dia akan jauh..tidak ada yang menjagai aku, dekat sini, tidak lagi setiap saat..
Aku… tidak lagi aman… aku….. takut..
Sekarang tulang tulang lenganku menyeri… aku ingin sendiri.
*********08:24pm-180107**********************************************************
Siapa yang bisa membalik prioritas untuk orang menyebalkan seperti dia…
Untuk siapa lagi aku bisa bohong kata pada orang lain … seperti sore tadi.
Aku melihatnya begitu bahagia…. Dan dadaku jadi baik baik saja.
Bahkan lebih nyaman dari sepuluh hari lalu, berpuluh puluh hari lalu…
Aku ‘cuma’ bahagia.
Lalu yang ‘cuma’ itu jadi lebih banyak lagi…
Saat dari balik kaca itu dia berangkat.
***********************************************11:11pm-190107*******


Leave a Reply