header image
 

_owner of my heart_

Rasa pahit di pangkal lidah ini mengingatkan aku untuk  mengingat-ingat nama siapa yang sedang aku ingat. Tapi tidak ada. Diantara dinding-dinding yang berputar aku mencoba mengurutkan nama-nama yang mungkin cukup berarti untuk menjadi topik di pikiranku. Tidak ada juga. Kukerutkan pelipis menyipitkan kelopak supaya dinding yang berputar itu berhenti. Tidak berhasil. Bahkan waktu kututupkan kelopak mata, tiba-tiba kepalaku seperti diayun-ayun dan bola mataku berputar cepat berlawanan arah dengan putaran batok kepala. Cepat kubuka lagi mata berpeganagn pada sisi tempat tidur. Merasakan mual hebat di ulu hati. Menelan cairan berlebih yang terasa makin pahit. Apa karena 2 gelas kopi pahit yang dua-duanya tidak habis aku minum pagi ini? Tapi..? manisnya pun masih terasa. Bahkan tadi kupikir sudah terlalu banyak gula ku aduk di kopi pekat itu. Ah! aku tidak mau memikirkan kopi…..

Pelan-pelan aku amati setiap petak anak tangga yang kujejaki turun. Takut kalau tiba-tiba putaran-putaran hebat itu menyerangku lagi. Ulu hatiku masih terasa aneh. Rasanya kosong tapi ada sesuatu disana yang menggelegak hingga pangkal lidah. Aku tidak tau yang sebenarnya, apakah dimulai dari pahit di pangkal lidah hingga terasa mual di ulu hati, atau bermula dari mual ulu hati hingga rasa ingin muntah ini yang menjadikan rasa pahit di pangkal lidah? Lalu, Apakah mual dan pahit atau pahit dan mual yang menyebabkan kepala dan bola mataku berputar berlawanan arah? atau sebaliknya? Akh! Aku tidak mau memikirkan perut, kepala, atau bola mata…..

Aku mencari lagi seseorang. Satu nama yang sedang aku pikirkan.
Tidak ada.
Kuurutkan lagi yang sebulan atau seminggu terahir ini  yang gegap gempita menunjukkan atau sekedar mengingatkan keberadaan mereka. Hasilnya?
Tidak ada. Flat.
Bahkan waktu kuselisir lagi nama yang beberapa tahun belakang menjadi keinginan, Hilang. Nama itu sudah tidak ada. Sama sekali.
Atau aku yang mengusirnya?

Apakah ini tanda-tanda kepongahanku?
Atau rasa ketidakmampuanku?
Atau tanda keapatisan?
Atau….
Semuanya akan berahir dengan cara yang sama. Maka tidak usah saja dimulai. Mendingan aku baring begini saja. Merasakan ngilu gemeretukan yang merayap di tulang belakangku hingga di tiap centi rusuk. Menikmatinya seperti di pijatan spa. Perihnya di tulang pinggul seperti semilir angin di pesisir bukit hijau. Aku terpejam ikut masyuk di putaran-putaran dalam kepala dan denyut-denyut bola mata menjadi ritmis seperti tari pedalaman. Lalu aku terlempar terbangun di tempat dimana tidak perlu lagi mengingat-ingat sedang mengingat nama siapa………
10:57 am 110707

~ by adekkeliat on July 11, 2007.

Leave a Reply