menunggu
katamu?
menunggu apa?
aku?
apanya?
kenapa?
bukannya aku yg sedang menunggumu?
jadi, kita sedang saling menunggu?
hahahaa….
kamu tau aku menunggu apa.
kalau yg kutunggu sudah datang maka apa yg kau tunggu pasti tiba.
jadi, siapa menunggu siapa?
apa menunggu apa?
kalau kau berani bilang melembeknya hatiku yg kau tunggu, maka kuserahkan pada bumi dan langit yg berputar untuk memilihkan.
kalau kau hanya berani bilang ‘menunggu’ seperti itu, maka tunggulah kalau tidak merepotkanmu sendiri karena aku tidak tau kemana janji bertiupnya arah angin dan awan, dimana pastinya letak bintang bintang di tiap malam malam yg berjalan untuk kita. aku bukan empunya malam.
kau boleh berkeras atas pilihanmu, tolong aku untuk benar benar boleh memilih juga.
tidak ada guna tidak mencukupkan kata rindu cuma jadi kata kata. setidaknya kamu tidak memberikan aku alasan untuk menidak cukupkan.
kalaupun kemana kita, kamu tetap mau punya bulan kembar, aku tetap jadi angin saja… berteman awan hitam menghitamkan bulan purnamamu. yg baru satu, mungkin..
dan kau tak akan pernah punya satu bulanpun, kau cari dimalam yang manapun.
ngerti?
oke. kamu pura pura tidak mengerti.

Leave a Reply