surat untuk sang pembaca hati
sayang, aku masih disini
pulang berpeluh dari negeri-negeri.
air mata itu sudah kusimpan,
mengendap, dan kini jadi mutiara.
sayang, aku duduk disini.
dengan bunyian jangkrik menemani.
darah itu sudah mengering,
terkelupas, mengkilat seperti rubi.
sayang, aku sedang mengisi
kolom-kolom pertanyaan yang mereka sodorkan
kedepanku.
lalu mereka satu-persatu..
pergi dengan tersenyum.
kadang kamu terlintas di jeda penaku
mengisi kolom-kolom itu.
kadang kamu tersebut di cerita-ceritaku
tentang pertanyaan mereka yang itu dan yang itu.
kadang kamu memelukku
jika tubuku kian rapuh
ingin tersungkur
saat mereka tak kunjung tersenyum.
sayang…. sedang apa kamu?
aku terdiam lama dalam hisapan racun ini menunggu
mereka yang akan datang lagi membawa revisi kolom-kolom
pertanyaan mereka.
sayang…
aku tau kamu merindukanku.
jika urusan kolom-kolom ini selesai.
dan kamu ada waktu, mungkin,
kita bisa ketemu, digerbang itu.
tunggu…
mereka hampir tersenyum.
sedikit, lagi.
disaat yang sama semua urusan
antah berantahmu pun akan selesai.
sedikit, lagi.
sayang….
aku tau aku merindukanmu, saat
kulhat sosokmu, berjalan mendekat
membawa kepingan puzzle
yang sisanya ada disakuku.

hmmmmmm….
Sandy said this on August 14, 2008 at 1:22 pm