sudah sepi
jalanan sudah sepi…
aku tak melihatnya berlari.
jalanan sudah sepi…
bayangan-bayangan silih berganti.
tembok-tembok belang berbata-bata
tak membantuku mengucap sesuatupun…
jalanan sudah sepi pulang ke entah dimana
hati…
jalanan sudah sepi dan nikoku tinggal selarik.
terbara derunya menggubahmu jadi lagu.
kamu, mungkin tergeli-geli melihat lelembutku.
berjalan mengindap-indap memenuhi kobokan
makan malammu.
maka kubasuhkan seluruh laraku pada laramu…..
hidupmu, melompong tanpaku…
hatiku, meluah bau bahumu…
melayang tak bersayap,
kita dinegeri seribu bulan dan
sembilan matahari.
mematuki cecamar yang semua jadi sebelas dan dua.
mati, terengkuh hityam abadi.
pecah, laksana penjaga empat mata angin….
menari di tiap menit percintaan yang jadi
bukan ternyata cinta.
sampai di terbit yang itu,
semua milik kita. aku. kamu.

Leave a Reply