luka yang berjalan
Aku sudah terlalu banyak luka!
Jangan kau dekati! Nanti kau jijik melihatku.
Makan dan lukislah langit di perut permaisurimu.
Apa??!! Aku kasar!?!?! Ya. Baiklah. Kau memang guru terbaik untukku.
Aku akui.
Sekarang enyah! Pergi! Tidak ada seanginpun yang bisa kau celahi untuk mendekat, mengisi sepi-sepimu, sementara kau tau aku tak ingin apa-apa darimu. Cuma diam akan kerinduan dan ketulusan yang ahirnya kau buat memuakkan jadi compang camping terhina dina menjijikkan dan mengerikan.
Kau tau?
Darimana kudapatan kekasaran ini?
Dari bahasa halus dan tak pernah ingkarmu itu.
Bahkan kau tengiki segala kerelaan dan keikhlasanku dengan alasan niat niat sutramu
menjerat leherku. Lalu kau kabarkan lagi asap memabukkan itu.
Cukup!
Enyah!
Sampai matipun kau mengharap puja dariku? Tidak akan.
Kau bahkan sudah mendapat ratusan mewangi seperti itu.
Kau bahkan jilati liur liur mereka agar sebuah daya tetap terlebur di tubuhmu.
Kau…..???
Melukis langit di perut permaisurimu.
Lalu kau, mempermainkan sebuah hati yang penuh luka.
Permainan yang cukup menjijikkan dan menyenangkan untuk lain daripada yang lain bukan????!?!???
Makanlah sepimu.
Lalu coba tunjukkan keberanianmu merebut kembali tahta sucimu itu.
Agar kau tak hanya bisa melukisi perut permaisurimu itu di balik semak semak. Ditonton seribu dayang, puas menebarkan berita bahwa harga diri sang perebut tahta-mu itu adalah tidak ada. Alih-alih betapa manusiawinya kamu dan permaisuri lalu-mu itu.
Aku, tak cukup pantas menemanimu mengunyahi sepi-sepi itu. Pergi!!!
Apa? Apa? Katakan sekarang! Apa lagi? Dulupun kau diam tak menemukan kata-kata.
Sekarang? Apalagi?
Kemanusiaan? Hubungan antar manusia? Silaturahmi? Hm… apa kau sempat mengerti untuk semua kata itu?
191008 – 08:35 pm

ya… apalah artinya hari ini bila tanpa arti hari kemarin…
fletox said this on October 30, 2008 at 7:00 am
hyoooiii fleeeee…… :::PPPP
adekkeliat said this on October 31, 2008 at 8:44 am