sambil memikirkanmu
Nafsu ini sudah tak tertahankan lagi
Kugantungkan pada dudukan lampu yang mulai lepas dari langit-langit itu.
Aku ini murid yang paling menurut jika inginmu begitu.
Dan aku adalah murid terbengal jika mauku begitu.
Silahkan maju tiga langkah mundur seribu lari.
Aku tetap disini.
Merangsek dengan tronton di bokongku.
Angin ini sudah membaca ketetapanku.
Dan ia akan merusakkan segala apa yang kau tanam tak mencencang di atasnya.
Aku adalah batu. berkosmik dengan pori poriku.
Maka segala gaya yang kau arahkan akan jadi tarianku.
Kusisipi sedikit sedikit bebauanku.
Khas ketiakku.
Kau rasai itu.
Kau bawai mereka.
Dalam perjalan panjangmu.
Menanti sebuah gubuk dibagun kan bersebelahan dengan milikmu yang reyot meyot itu.
Jangankan angin sepoi sepoi.
Beliungpun tak sanggup mematahkan urat-uratnya yang sudah mengakarkan luka di inti hatimu.
Kau kira siapa yang akan membangunkannya satu untukmu jika kau tak menggerakkan sekukupun jarimu?
Dan jangan kau kira.
Luka yang kau tatahkan di batumu itu nanti berguna.
Endusi segala bau lukaku ini. besok mereka akan pergi atau mungkin sebentar lagi. Karena angin datang tak berkabar dahulu.
Aku akan menerpakan mereka di lenganku yang berkibar.


Leave a Reply