header image
 

biblba -B

aku bicara pada si bisu batu.

aku terus bicara bicara bicara ketawa tak henti dengan nada dari langit.

si batu diam tetap.

menerkamku mengulumku melumatku.

segala daya dibuncah dari dalam tubuh dan jiwanya sejak ia dan aku.

luka.

aku…… tenggelam..

dan tak bisa melupakanya.

sampai setelah hidupku..

yang ini.

mencoba pergi

Dikibaskannya sejadahnya.

Dikiranya ada yang menutupi matanya.

Dikiranya ada yang mencuri kewarasannya.

Saat dengkul dengkul mulai meneteskan airmatanya.

Mungkin saja setan setan yang tiap tengah malam dianjanginya menempel dibahunya. Meresap ke hatinya.

Ke ruhnya.

Ke inderanya.

Ke rasanya.

Ke…..

Segala yang muingkin masih dimilikinya.

Siapa tau…….

Dia melihat lebih jelas…

Diulanginya.

Diulanginya.

Di jumputinya.

Disela sela beludru merah hati.

Hijau dan abu-abu…….

Ah….. mungkin hanya perlu ke dokter mata….

Hati.

Adakahhhh???!!!!!!

Coba siapa berani bilang saya masih waras!! Hah?!!!!

”’

Kukira Tuhan masih mau membaca hatiku

Dan Tuhan bilang, “iya”

mata.

hati.

mu adalah milikmu.

Kamu, hanya perlu… boorwater. Ini resepnya. Silakan belok kiri lurus 9m. apotiknya disitu. Have a nice day da seee ya……!!

Da cupcup muah dokter ganteng! Seeeee ya!!

Hm… semoga tidak tersesat yaa….

Hm? bukan semoga lekas sembuh?

Kamu sudah.

sambil memikirkanmu

Nafsu ini sudah tak tertahankan lagi

Kugantungkan pada dudukan lampu yang mulai lepas dari langit-langit itu.

Aku ini murid yang paling menurut jika inginmu begitu.

Dan aku adalah murid terbengal jika mauku begitu.

Silahkan maju tiga langkah mundur seribu lari.

Aku tetap disini.

Merangsek dengan tronton di bokongku.

Angin ini sudah membaca ketetapanku.

Dan ia akan merusakkan segala apa yang kau tanam tak mencencang di atasnya.

Aku adalah batu. berkosmik dengan pori poriku.

Maka segala gaya yang kau arahkan akan jadi tarianku.

Kusisipi sedikit sedikit bebauanku.

Khas ketiakku.

Kau rasai itu.

Kau bawai mereka.

Dalam perjalan panjangmu.

Menanti sebuah gubuk dibagun kan bersebelahan dengan milikmu yang reyot meyot itu.

Jangankan angin sepoi sepoi.

Beliungpun tak sanggup mematahkan urat-uratnya yang sudah mengakarkan luka di inti hatimu.

Kau kira siapa yang akan membangunkannya satu untukmu jika kau tak menggerakkan sekukupun jarimu?

Dan jangan kau kira.

Luka yang kau tatahkan di batumu itu nanti berguna.

Endusi segala bau lukaku ini. besok mereka akan pergi atau mungkin sebentar lagi. Karena angin datang tak berkabar dahulu.

Aku akan menerpakan mereka di lenganku yang berkibar.

hasrat

aku melihat bola mata apinya. muncrat nanah godanya.

aku menghitungi geliat tubuhnya.

jerengat bokongnya.

dia meliuk. menggoda lelaki kecilku.

lelakiku yang ku buai buai ku semai hingga ia benar benar jadi apa yang ada diimpiannya. tergigit deretan gigi panjang sang perempuan sebelia itu menabuhi gerontangan musik dari alam semerbak memabukkan.

gemilang cahayanya meredup dibisikan birahinya malam itu.

tak kujawabi.

diam…

aku terdiam…

anak ini sedang bertumbuh….

dan ia tersedot arus gempitanya si mata berbola besar.

mungkin dia sedang melihat yang seperti itulah yang disebut ‘kebahagiaan’.  nya.

masa.

nanti juga dia kan tau.

akan datang menjemputnya.

dan dia akan meregang. mengerang. menjilati konak yang meleleh di balik celananya. menggerayangi masa ranumnya. di hari hari terbelit asap durja yang dicecapinya harus.  supaya tau. lanjutkan duniamu itu. sesapi madu parat itu.

selamat malam, sayang.

luka yang berjalan

Aku sudah terlalu banyak luka!

Jangan kau dekati! Nanti kau jijik melihatku.

Makan dan lukislah langit di perut permaisurimu.

Apa??!! Aku kasar!?!?! Ya. Baiklah. Kau memang guru terbaik untukku.

Aku akui.

Sekarang enyah! Pergi! Tidak ada seanginpun yang bisa kau celahi untuk mendekat, mengisi sepi-sepimu, sementara kau tau aku tak ingin apa-apa darimu. Cuma diam akan kerinduan dan ketulusan yang ahirnya kau buat memuakkan jadi compang camping terhina dina menjijikkan dan mengerikan.

Kau tau?

Darimana kudapatan kekasaran ini?

Dari bahasa halus dan tak pernah ingkarmu itu.

Bahkan kau tengiki segala kerelaan dan keikhlasanku dengan alasan niat niat sutramu

menjerat leherku. Lalu kau kabarkan lagi asap memabukkan itu.

Cukup!

Enyah!

Sampai matipun kau mengharap puja dariku? Tidak akan.

Kau bahkan sudah mendapat ratusan mewangi seperti itu.

Kau bahkan jilati liur liur mereka agar sebuah daya tetap terlebur di tubuhmu.

Kau…..???

Melukis langit di perut permaisurimu.

Lalu kau, mempermainkan sebuah hati yang penuh luka.

Permainan yang cukup menjijikkan dan menyenangkan untuk lain daripada yang lain bukan????!?!???

Makanlah sepimu.

Lalu coba tunjukkan keberanianmu merebut kembali tahta sucimu itu.

Agar kau tak hanya bisa melukisi perut permaisurimu itu di balik semak semak. Ditonton seribu dayang, puas menebarkan berita bahwa harga diri sang perebut tahta-mu itu adalah tidak ada. Alih-alih betapa manusiawinya kamu dan permaisuri lalu-mu itu.

Aku, tak cukup pantas menemanimu mengunyahi sepi-sepi itu. Pergi!!!

Apa? Apa? Katakan sekarang! Apa lagi? Dulupun kau diam tak menemukan kata-kata.

Sekarang? Apalagi?

Kemanusiaan? Hubungan antar manusia? Silaturahmi? Hm… apa kau sempat mengerti untuk semua kata itu?

191008 – 08:35 pm

gila!!

tidak bisa kerja!

tidak bisa ngapa-ngapain!

erggghhhh……………. harus apa? apa? apaaaaaa….?????

ehhhh…… kangen…..

kerinduan

dan aku mengosongkan semua percakapan dengan bayangan.

mereka hanya ingin meniduri sebuah teka teki.

dan aku tenggelam di badai yang kuraut dengan dua jari tengahku.

aku terdiam… bahkan tak tau mau kuselipkan kemana kerinduan ini.

tak usah bicara!

diam!

muak aku lihat gaya memanggilmu.

gaya membacamu, membacai apa yang tertera di sekujur tubuh ini.

ssshh..diam. kamu, kamu, dan kamu juga! aku sedang merasakannya merayap di tungkaiku….naik ke ulu hatiku….

kukumpulkan semua sepi. kuaba-abai mereka jadi debu…. terhisap pepat hingga ke pori pori ku….. hanya satu. aku merindukan sebuah kerinduan yang seharusnya bernama, kerinduan. dan ini. bukan. dan ini…. tak berpenepi. lalu,

nanti sore dia juga akan terbahak dengan masa lalunya. terpeluk bayangan penyihir tak punya hati yang meniupkan aroma pelupa jiwa. padanya.

kemudian….

dia…

mencumbui masa lalunya.

sementara mulutnya, tangannya, berteriak teriak tentang besok pada yang saat itu sedang disebelahnya.

padahal ia….. ditiduri lelap di masa lalu dan kemarinnya. penyihir….. betapa baiknya kau memperlakukan dia yang tolol tak tau arah itu sesuka kuku kuku cakar berracunmu! pulang! pulang! sudah usai permainan mu. dia… tak layak kau mainkan lagi. sehebat apapun dirimu, pulang!!! kau bahkan sudah memilih rumahmu sendiri. kau bahkan sudah campakkan dia! kau bahkan sudah pergunakan dia sebagai penawar rasamu. sebagai sandalmu menuju tempat yang sekarang sudah kau miliki. kurang apa? hah? mau kau apakan lagi dia??? pergii!!!! dia akan bertemu dengan kekasihnya. yang seharusnya bisa dia temukan di entah mana. kemanisan liur madumu, kelembutan duri berbisamu, kesenangan tuak yang kau janjikan….? adalah jahanam keparat! apa kau tak lihat dia adalah tak berdaya? biarkan dia bertemu dengan kekasihnya. jangan kau kangkangi dengan semburat celana dalam dan beha sisa sisa itu. atas nama hatimu, mendayu, merayu… kau kira aku tak tau kelemahannya yang mana yangs selalu kau gores lumuri ke luka masa lalunya. bangsat!!!!!……….eegghhhhh…

ya….. dan dia tuliskan besar-besar didadanya tentang cita-cita dan tentang apa yang sedang di genggamnya…. lagi….namun, jelas ternyata terpampang menung-nya… ke kemarin dan masa lalu…

bukankah ada segolongan orang yang mengatakan apa yang tidak bisa dilakukannya. apa yang jadi keinginannya. apa yang jadi kelemahannya,

menjadi sebentuk kalimat, yang ia kira….. mampu membuat mata hati orang-orang yang bermata hati, tertutup..

terlupa, terselubungkan, oleh… sebaris kalimat.

bukan tipuan.

bukan pembelaan.

bukan… pemaafan.

bukan pemotivasi.

hanya, menggambarkan bahwa bagaimana engkau melakukan sebaliknya dari yang kau tulis.

lalu kau berpaling…. lagi. memasang mimik gembira saat hatimu tertampar.

lalu kau menunduk.. lagi… tanpa suara mengakui hanya mampu mecumbu masa lalu.

bahkan bilapun masa lalu mu itu menyakiti terus menerus kau terimai itu sebagai sekarang dan esokmu… yang patut kau sukuri karena lagi2 hanya kau dan Tuhan yang tau.. katamu. memang, agak sulit mengakui… coba! coba katakan… bahwa kau, hanya takut, kebenaran yang telah diketahui berpasang2 hati…. terbenarkan

kau tertawa… tertabah… menguatkan arti alasan yang bahkan tak mampu kau sebutkan waktu itu.

dan kau… terus membohongi dirimu sendiri..

sudah sepi

jalanan sudah sepi…

aku tak melihatnya berlari.

jalanan sudah sepi…

bayangan-bayangan silih berganti.

tembok-tembok belang berbata-bata

tak membantuku mengucap sesuatupun…

jalanan sudah sepi pulang ke entah dimana

hati…

jalanan sudah sepi dan nikoku tinggal selarik.

terbara derunya menggubahmu jadi lagu.

kamu, mungkin tergeli-geli melihat lelembutku.

berjalan mengindap-indap memenuhi kobokan

makan malammu.

maka kubasuhkan seluruh laraku pada laramu…..

hidupmu, melompong tanpaku…

hatiku, meluah bau bahumu…

melayang tak bersayap,

kita dinegeri seribu bulan dan

sembilan matahari.

mematuki cecamar yang semua jadi sebelas dan dua.

mati, terengkuh hityam abadi.

pecah, laksana penjaga empat mata angin….

menari di tiap menit percintaan yang jadi

bukan ternyata cinta.

sampai di terbit yang itu,

semua milik kita. aku. kamu.

memulai sesuatu yang dibunuhi sendiri,

kosong 102

kosong 102

kemana lagi kutaruh awan - awan ini.

sudah menyesak dibawah bantalku.

menggembung dibalik kasur dan selimut. Continue reading ‘memulai sesuatu yang dibunuhi sendiri,’

penyelamat…ku,

lalu durinya tumbuh bersama tanggal lahirnya menusukku!
mengendapkan semua cecaci pada
darah yang terbagi mengalir….
menyendokinya menggumpal ke seluruh tubuh dan wajahku.
hitam! busuk! berbau got jahanam.
aku, tertuai simalakama.

lalu nyalanya yang hadir di
dua hari setelah tanggal lahirnya,
menjilatiku! membakarku!
menyerpihi kebenaran jadi abu….
terbang… hilang tertiup
menyesaki lubang hidung.
aku, terpental!!!
terjerembab…bingung ada apa
mengapa….
aku, tertunas beracun.

ada apa dengan ini?
adakan sesuatu yang kulewatkan?

lalu kudengar ia berjingkat menyepi
di kisi dingin…berbicara dengan berbagai
ekspresi pada dan tentang.
tentang….. apa? apa????
adakah yang aku lewatkan?
berapa paragraf?
berapa halaman?
berapa kiriman?
berapa pentas?

akh… itu dia penyelamatku datang…
cuma dengan rambut gondrong dan mimik chipmunknya….
aku tertawa..
aku termurka..
aku, meredup… melelah…
dimana aku harus…   ,   nya ,,, … ,, ??
menangis….mana pernah kupikirkan, toh
pikiran itu sudah lama kusampirkan
ke jemuran mati di ladang tak bertuan itu….kemarin.
malaikat…. pasti mengerti. bahasa yang tak terbahasakan, hati.